5 Situs Asik Tentang Sound

5 situs asik

Jadi kamu mau latihan tapi teman bandmu belum pada datang?  Apa kamu berangkat duluan karena tempat kerjamu dekat dan kamu menghindari menunggu di kantor? Oh, atau kamu sedang menunggu waktu check sound yang ngaret karena vokalis/gitaris band sebelum kamu baru saja datang? Tenang jangan cemberut! Bayusvara akan memberikan solusi untuk kebosanan kamu!

Bayusvara.com – Seorang anak band tentu harus mengerti perihal tata suara dan hal-hal yang meliputinya. Maka kami menawarkan solusi berupa 5 situs asik tentang musik dan tata suara yang dapat kamu kunjungi sekarang. Jadi buka perantas di handphone-mu, lalu klik situs dibawah ini.

  1. SOUND ON SOUND
5 situs asik

Pernah dengar situs ini dari teman kamu yang seorang audio engineer? Atau pernah melihatnya di-post salah satu teman facebook kamu? Nah, jika kamu belum pernah membukanya, dari sekarang kamu harus mulai membuka situs ini. Situs ini tidak melulu berisi artikel dengan bahasan yang teknis tentang tata suara, namun situs ini juga berisi wawancara dengan banyak producer atau audio engineer dari musisi-musisi internasional.

  1. SOUNDFLY
5 situs asik

Berdiri sejak tahun 2016, umur situs ini dapat terhitung sangat muda. Flypaper merupakan divisi publikasi dari sekolah musik berbasis internet Soundfly.com Nah, yang menarik dari situs ini adalah tutur bahasa dan pembahasan yang anak muda banget. Banyak artikel yang mengangkat tema keseharian anak band seperti tips-tips check sound, cara membuat lirik yang kuat hingga bagaimana memasarkan band kamu di social media.

  1. TAPE OP
5 situs asik

Situs yang berbasis majalah ini merupakan media yang sudah berdiri dari tahun 1996. Dari awal berdiri, Tape Op konsisten membahas dunia rekaman kreatif dalam musik. Tape Op dapat dibilang salah satu majalah yang berhasil bertahan ditengah derasnya arus digitalisasi. Salah satu upayanya dalam bertahan adalah membuat tautan baru di situsnya, yaitu rubrik Podcast. Rubrik yang baru berjalan dua bulan ini sudah mampu mewawancara tokoh-tokoh besar dunia musik. Dua diantaranya adalah Brian Eno dan Jack White. Selain Podcast, banyak juga artikel yang membahas tentang front-man dari berbagai band, bagaimana pendekatan mereka terhadap sound serta penulisan lirik/musik.

  1. EMUSICIAN
5 situs asik

Situs ini sangat cocok untuk kamu anak band yang hobi membuat demo di software musik di laptop atau pc kamu. Sebab di situs ini terdapat rubrik How To yang membahas tentang tips-tips penggunaan vst/plug-in dalam software musik. Belum lagi banyak juga terdapat bahasan tentang penggunaan sound-sound­ pada synthetizer. Selain untuk kamu yang doyan membuat demo di laptop atau pc, situs ini juga cocok untuk kamu yang hobi membuat musik electronic.

  1. HARMONY CENTRAL
5 situs asik

Situs ini dapat dibilang salah satu situs yang cakupannya luas. Artikel yang banyak ditampilkan adalah artikel review gear oleh user atau para expert. Selain artikel tersebut, terdapat juga berbagai artikel feature tetang musik secara umum. Seperti artikel yang membahas tentang produser-produser musik aliran chillhop atau artikel yang membahas masa depan midi controller. Situs ini sangat cocok untuk kamu-kamu yang ingin menambah wawasan tentang gear­ namun tetap ingin update tentang musik.

Apa teman-teman bandmu sudah datang? Atau malah waktu kamu latihan dimundurin? Jangan khawatir jangan panik! Baca lagi pelan-pelan situs-situs diatas, mungkin kamu kelewatan banyak bahasan yang menarik. Kalau semua situs diatas sudah kamu lahap abis dan teman-temanmu belum datang juga, kamu masih dapat membaca artikel lainnya di Bayusvara.com.

5 Hal Menarik di Dunia Musik Tahun 2017

5 hal menarik

Siapa yang mengira bahwa tahun 2016 akan menjadi tahun yang membingungkan. Tahun dengan kemenangan Donald Trump, penisbihan Ahok, terkenalnya Awkarin dan jangan lupa hadirnya Vice di Indonesia. Hampir semua aspek mengalami keanehan di tahun ini, tidak terkecuali dunia musik. Melejitnya Rich Chigga di kancah musik hip-hop dunia (bahkan hingga berkolaborasi dengan Ghostfaced Killah), hingga puja-puji untuk Young Lex oleh kalangan remaja tanggung Indonesia.

Bayusvara.com – Di tengah kebingungan tersebut, dunia musik juga diberkahi dengan banyak hal baik. Ada rilisan-rilisan baru yang menarik, konser tunggal band-band keren hingga festival musik skala masif tanpa batasan genre (ingat Syncfest?).

Lalu bagaimana keadaan dunia musik di tahun 2017?  Kami berpendapat bahwa 2017 akan menjadi tahun yang baik untuk musik. Berikut hal-hal menarik yang akan terjadi di tahun 2017.

  1. Lahirnya Banyak Rilisan Ciamik
5 hal menarik

Kancah musik Indonesia di tahun 2016 dapat dibilang sangat menggairahkan. Wajah-wajah baru mulai terlihat, wajah-wajah lama mulai menyesuaikan diri bahkan peleburan dua wajah tersebut dapat terjadi di satu panggung.

Konsekuensi dari lahirnya kekuatan baru di dunia musik adalah lahirnya rilisan-rilisan baru. Tahun 2016 telah memberikan kita beberapa rilisan ciamik seperti Solitude dari sang piawai gitar yang juga basis dari supergrup Barasuara, Gerald Situmorang. Morfem dengan mahakaryanya yang bertajuk Dramaturgi  Underground. Akhir Desember, kita juga disuguhkan beberapa rilisan menarik seperti Mondo Gascaro dengan Raja Kelana-nya atau Indische Party dengan Analog.

Melihat 2016, tahun ini akan menjadi tahun yang patut ditunggu. Banyak grup musik yang sudah berjanji akan mengeluarkan album. Mulai dari grup rock and roll yang saat ini paling brengsek tapi cool, Kelompok Penerbang Roket hingga salah satu solois wanita paling diantisipasi Danilla Riyadi. Penasaran bukan, terdengar seperti apa musik Indonesia di tahun 2017?  Sama!

  1. Solois Pria
5 hal menarik

Tahun 2016 merupakan tahun dimana dikte televisi  sudah selesai, selera bergeser, label besar mengecil satu-persatu dan kekuatan pasar akhirnya kembali kepada pendegar. Salah satu penunjang kembalinya kekuatan tersebut adalah internet. Internet telah memberikan kebebasan penuh kepada pendengar musik untuk menentukan apa yang ingin mereka dengar dan mampu untuk say no pada musik arus utama atau musik televisi.

Lalu apa kabar musik pop ala solois pria? Apa sudah tidak menarik lagi? Jawaban kami sih masih. Banyak solois pria masih hadir dan mengambil hati pendengar musik Indonesia, mulai dari; Rizky Febian, Tulus hingga Kunto Aji. Menurut kami, tahun 2017  juga menjadi tahun yang menarik untuk mereka, para solois pria. Hal tersebut terlihat dari pendatang baru yang mulai menunjukan taringnya seperti; Rendy Pandugo yang sudah merilis satu single bertajuk I Don’t Care atau Jaz dengan single-nya Dari Mata. Tentu tanpa menutup manisnya album baru dari solois lama seperti Kunto Aji dan Teza Sumendra.

  1. Band dan Tour
5 hal menarik

Tour dapat dibilang menjadi pertanggung jawaban musisi dalam menampilkan secara langsung rekaman yang sudah dirilis kepada khalayak. Namun hal tersebut tidak lumrah terjadi di Indonesia bukan? Hal tersebut terlihat dari hanya segelintir musisi atau band Indonesia yang melakukan tour. Tahun lalu kita punya Barasuara dengan Taifun tour-nya dan Gerald Situmorang dengan Solitour-nya. Mereka merupakan dua musisi Indonesia yang melakukan tour di dalam Indonesia, namun selain mereka terdapat juga grup musik yang melakukan tour ke luar negeri. Grup musik tersebut adalah Stars and Rabbit dengan tour Eropa serta The SIGIT dengan tour Australia.

Kami berharap bahwa musisi-musisi yang melakukan tour tersebut dapat memicu musisi-musisi lain untuk melakukan hal yang sama, sehingga lebih banyak lagi kota yang bisa mendengar musik yang beragam. Kalau bisa sih sampai ke Timur Indonesia.

  1. Tim Produksi dan Sound Engineer muda
5 hal menarik

Di dunia musik tahun 2016, telah lumrah sebuah istilah bahwa dibalik band yang keren pasti ada tim produksi yang mati-matian check sound-nya (lebih keren). Tim produksi tersebut biasanya terdiri dari orang-orang yang mengerti sistem tata suara dan kebutuhan teknis dari band tersebut. Dapat dibilang di tahun 2016, hampir sebagian besar band independen mempunyai setidaknya satu orang untuk bertanggung jawab atas keperluan produksi dan teknis mereka. Maka dapat dilihat bahwa band baru sekarang sangat sadar bahwa kalau mau ngeband memang harus ngerti teknis juga. Hal tersebut diringi dengan tampilnya banyak sound engineer muda yang mulai menavigasikan suara bagi band-band yang bersangkutan. Sebut saja, Bayu Perkasa dari Barasuara, Gerard Rumintjap dari Scaller, Adrianus A Haryo dari the-next-big-thing-nya band “kencang” Piston dan masih banyak lagi. Menurut kami, tahun 2017 akan menjadi tahun dimana dunia produksi musik Indonesia akan kedatangan wajah-wajah baru. Semoga dengan semakin tingginya kesadaran musisi dan band atas kebutuhan teknis berbanding lurus dengan kualitas penampilan live mereka. Sehingga tahun 2017 akan menjadi tahun yang menarik untuk menonton langsung band-band yang kamu suka!

  1. Live Music di Kanal Youtube
5 hal menarik

Kesadaran orang-orang untuk merekam langsung penampilan musik dan mengunggahnya ke Youtube merupakan sebuah tren yang 2-3 tahun terakhir ini tengah berkembang. Tidak sedikit juga orang-orang yang membuat situs dengan menu utama penampilan musik yang diunggah di Youtube. Salah satu kanal paling dikenal yang berhasil mengikutsertakan band-band baru yang keren dan band-band lama legendaris adalah Sounds From The Corner. Band yang terlibat di kanal tersebut beragam, mulai dari Payung Teduh, Barasuara, Sheila on 7 hingga Dewa 19. Jenis kontennya pun beragam, ada yang berupa rekaman panggung band tersebut dan ada juga rekaman video live yang lebih intim di studio.

Selain Sounds From The Corner, ada juga Klik Klip yang fokusnya lebih kepada band-band baru. Dengan hanya bermodalkan demo saja, band-band baru dapat tampil di studio Klik Klip yang rekaman live-nya akan diunggah ke kanal Youtube mereka. Selain Klik Klip, ada juga Ruhara yang menyuguhkan penampilan live dengan konsep unik berupa silent gig. Dalam kanal youtubenya dapat dilihat beberapa rekaman penampilan langsung dari beberapa band lengkap dengan penontonnya yang ber-headset. Nah, di tahun 2017 menurut kami akan lebih banyak kanal Youtube yang mengunggah rekaman live dari musisi-musisi dan band-band Indonesia. Youtube akan penuh dengan penampilan live dari berbagai band atau musisi, mulai dari yang keras hingga yang pelan, yang baru hingga yang sudah jadi dedengkot. Sehingga kami dapat simpulkan bahwa tahun 2017 merupakan tahun yang baik untuk menonton Youtube.

Secara garis besar, dunia musik di tahun 2017 akan berkembang menjadi sesuatu yang sangat menarik. Internet yang memberikan kemudahan akses, suburnya acara-acara musik: mulai dari skala komunitas hingga skala nasional dan telinga pasar yang lebih luas merupakan sedikit dari banyak alasan mengapa tahun 2017 akan menjadi tahun yang menarik.

Jadi sisihkan jajanmu! Tabunglah untuk memborong rilisan-rilisan baru dan nonton acara musik yang semakin keren di tahun ini!

Artist Review: 90 Horse Power

90hp

Pada review artist Bayzine kali ini kami bersyukur karena salah satu sesepuh dari Bayusvara Sound System Provider, dengan sukarela, mau menyumbang satu tulisan tentang band yang sedang ia gandrungi. Band tersebut merupakan band dengan kemampuan teknik bermain yang tidak unggul namun lagunya dipenuhi aura positif yang dengan segera dapat dirasakan oleh setiap orang yang mendengarkannya. Lalu apa yang Fikri Hadi rasakan saat mendengar lagu-lagu 90 Horse Power? Simak ulasan berikut.

Bayusvara.com – Ada sebuah kalimat bijak, bahwa Musik sebagai seni mampu mengungkapkan hal-hal yang tidak dapat diekspresikan dengan kata-kata, musik lebih mampu dan lebih ekspresif dalam mengungkapkan perasaan daripada bahasa lisan dan tulisan. Seringkali kita berada dalam fase “merinding” saat mendengarkan musik, hal-hal magis seperti itulah yang bisa dilakukan oleh musik terhadap kita, si jiwa-jiwa yang kosong. Tempo hari saya disodorkan teman CD sebuah band baru, namanya 90 Horse Power. Sekilas namanya seperti mendengar sales mobil mengidentifikasi semburan tenaga mesin mobil dagangannya. Namun, apalah arti sebuah nama seperti kata Shakespeare, 90 Horse Power yang satu ini tidak butuh terlalu banyak sales sehingga kuping kita tidak keracunan oleh banyak omong kosong. Sesaat setelah mendengar keseluruhan materi di album mereka saya bisa langsung memilih mana lagu favorit yang bisa memposisikan saya pada fase “merinding”.

90 Horse Power mencoba menawarkan warna musik yang segar seperti band-band di era Sheila on 7 berjaya dengan paduan lirik-lirik yang lugas. Memang lirik masih berputar pada tema andalan musisi seantero jagad, yaitu cinta, patah hati, dan kumpulannya. Akan tetapi, memilih tema cinta sebagai lirik lagu bukanlah sebuah pilihan yang haram jaddah selama pemilihan diksi dalam lirik tersebut tidak norak dan alay cenderung melambai. Hal itu terbukti dari tidak adanya pemilihan kalimat ala abang-abang cilok sedang kasmaran seperti “Aku cinta kamu tapi kamu memilih dia” atau “aku lebih baik mati daripada melihat kau dengannya”. Dengan pendekatan penulisan lirik seperti itu menjadikan lirik-lirik 90 Horse Power ini dapat dimaknai secara luas, lebih dari sekedar perasaan cinta antara Kabayan dan Nyi Iteung. Untuk hal tersebut saya harus mengucap banyak syukur Alhamdulillah.

90HP2
(photo: @marsyaditia)

Musikalitas adalah hal lain dari band ini, karena selidik punya selidik dalam band yang beranggotakan 5 orang ini hanya ada 2 orang yang bisa memainkan alat musik sejak lama. Sementara 3 orang lainnya yaitu, drummer dan 2 gitaris-wati mereka baru belajar memainkan alat musik masing-masing 2 tahun belakangan ini. Maka itu pencapaian 90 Horse Power dengan berhasil menelurkan mini-Album sangat sangat patut diapresisasi, karena jago bermusik kadang tidak linier dengan kemampuan membuat lagu bahkan menelurkan karya. Banyak yang jago main alat musik namun saat menelurkan album ga lebih bagus dari gonjrengan pengamen yang men-cover lagu ST-12 atau malah menghasilkan lagu dan musik yang super njelimet dan lebih rumit dari persamaan Helmholtz.

90HP3
(photo: @marsyaditia)

Kekurangan pada setiap karya pasti ada, salah satunya dengan gitaris sebanyak 3 orang seharusnya musik di album ini akan lebih berwarna. Namun yang terdengar, maafkan kuping amatiran ini, hanya seperti band dengan 2 gitaris. Hal tersebut jika dapat dimaksimalkan oleh punggawa 90 Horse Power tentu akan menjadi sebuah kekuataan dan ciri khas di album mereka berikutnya.

Sebagai reviewer awam dan cenderung asal bicara kalau diminta tunjuk lagu favorit maka saya akan memilih lagu ketiga di album ini, yaitu “Tak Lepas Pergi”. Belakangan lagu itu selalu mengingatkan saya dengan perjuangan seorang lelaki yang rela banting tulang demi menafkahi keluarga kecil yang dimilikinnya. Awwww, jadi pengen cepet-cepet pulang kantor.
Sekian.

Profil Kontributor

Bang Fikri

Fikri Hadi yang akrab dipanggil Bang Fikri adalah seorang bapak beranak satu dengan beragam aktifitas. Selain bekerja sebagai seorang museolog, ia juga aktif sebagai salah satu anggota Board dari Bayusvara Sound System Provider dan pemilik dari http://www.sewapartisimurah.com . Orang yang di masa kemahasiswaannya juga aktif menjalankan banyak kegiatan ini, sekarang sedang hobi mengulas dan mengicip kopi dari belahan Indonesia. Ingin lihat ulasan-ulasan tentang kopi yang baru ia cicipi? Baca di instagramnya @bijikisut.

Menuju Korean Culture Day 2016, Hwarang FIB UI Sukses Gelar Korean Mini Fair

Hwarang

Bertempat di Auditorium Gedung IX FIB UI, Himpunan Mahasiswa Koreanologi FIB UI yang tergabung dalam ‘Hwarang’ kembali menghelat Korean Mini Fair sebagai pre-event gelaran tahunan Korean Culture Day 2016.

Bayusvara.com – Korean Culture Day 2016 (KCD) diprediksi akan menjadi KCD terbesar yang pernah ada. Tahun ini Hwarang menggelar rangkaian pre-event sebanyak dua kali, berbeda dengan biasanya yang hanya mengadakan satu kali pre-event. Bertajuk ‘Road to Korean Culture Day 2016,” rangkaian acara KCD 2016 pertama diadakan pada 5 – 7 Februari lalu di One Belpark Mall. Korean Mini Fair (KMF) yang diadakan pada Jumat 18 Maret kemarin merupakan rangkaian acara yang kedua.

0088
Suasana kemeriahan di atas panggung Korean Mini Fair (photo: @mzbbwwrks_)

KMF dibuka dengan tarian Kalchum (Tari Pedang) dan Talchum (Tari Topeng) yang merupakan tarian tradisional Korea oleh Tim Seni Hwarang. Lomba Karaoke antar Himpunan Mahasiswa Jurusan FIB UI juga tetap ada dalam serangkaian acara KMF. Lomba ini dimenangkan oleh Program Studi Jawa yang diwakilkan oleh Bramantya Dwipramadya di tempat pertama, dan Program Studi Prancis dengan perwakilannya Arissa Shaquila di tempat kedua.

Menariknya, selain lomba karaoke lagu Korea yang bersifat hiburan, KMF juga menyelipkan konten edukasi dengan mengadakan workshop Bahasa Korea Dasar dan workshop membuat Kimbab (makanan tradisional Korea). Selain itu, KMF juga mengadakan talkshow edukatif bertajuk “From Hobby to Money” yang mengundang Canti Clarinta, penulis novel “Oppa!! (The Life of a Fan Girl)” dan Euis Sulastri, S.Hum, M.A, dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayan Korea sebagai pembicara.

0099
90 Horse Power menjadi salah satu band yang tampil di KMF (photo: @mzbbwwrks_)

KMF ditutup dengan penampilan beberapa musisi lokal FIB UI. Diakui Rena selaku Project Officer, hal ini yang membedakan KMF kali ini dengan tahun-tahun sebelumnya yang bisa dibilang serba Korea. Hal ini dilakukannya untuk menarik pengunjung yang lebih umum. Karmia, Dekresenda, Satrio x Rubina, Sudhobool dan 90 Horse Power adalah beberapa musisi lokal FIB yang tampil pada gelaran KMF kemarin.

Mengenai Korean Culture Day 2016 yang akan dihelat pada 16 April mendatang, Rena berharap semua dapat berjalan sesuai dengan yang sudah direncanakan. Mengangkat tema “One Day in Seoul,” KCD 2016 akan membawa nuansa Kota Seoul ke Balairung UI melalui konsep dekorasi yang spektakuler. Gelaran yang terkenal selalu memboyong artis Korea sebagai bintang tamu utama ini pun telah merilis info bahwa tahun ini KCD masih akan melanjutkan tradisi tersebut. Setelah Eru pada tahun 2015, tahun ini KCD mengundang musisi indie asal Korea, Sugar Bowl. (I. Rahman)

Backstage Heroes: Arief Purwanto (Endah & Rhesa)

Arief Purwanto

Setiap orang tentu menginginkan untuk hobinya dapat menghasilkan, namun sebenarnya mana yang perlu didahului? Passion-nya? Atau penghasilannya? Perdebatan atas hal tersebut tersebar ke segala bidang, termasuk di bidang sound engineering. Dari mulai seorang sound engineer band, sound engineer gedung atau sound engineer vendor, semua diselimuti pertanyaan. Apakah yang dilakukan merupakan hobi? Atau Pekerjaan?

Bayusvara.com – Menjadi sound man sebuah band seharusnya dianggap hobi. Itu setidaknya  menurut Arief Purwanto yang sudah malang melintang memegang band lebih dari 5 tahun. Mengenal sound system dari pengalaman manggung, membuat ia mendidik dirinya sendiri di bidang tersebut. Sound engineer yang selalu sound check ini memulai ketertarikannya di dunia sound sebagai teknisi gitar untuk Efek Rumah Kaca. Beberapa tahun setelahnya ia memutuskan untuk menetap di FOH setiap Endah And Rhesa tampil. Ditemui di tempat tinggalnya, Arief berbagi cerita dengan Bayszine soal bagaimana ia bisa mengetahui reverb sampai pengalamannya mengobrol dengan Iwan Fals.

Apa Kabar Mas?

Baik mas.

Lagi sibuk apa nih mas?

Lagi sibuk sama manajemen Endah And Rhesa (EaR), Rei Project.

Lagi ada project terbaru apa nih Rei Project?

Kami lagi ada project sama band Bali, rencana akan launching pas Java Jazz nanti. Nama project-nya tuh DDHEAR, jadi bentuknya tuh kolaborasi antara DDH (Dialog Dini Hari) sama EaR  di satu panggung yang sama. Nanti juga DDH akan ngebawain lagu EaR, EaR juga akan ngebawain lagu DDH. Gw di project ini berperan sebagai Engineer di FOH.

Nah mas, bisa ceritain gak gimana awalnya bisa jadi sound engineer?

Awalnya gw gak pernah tau gw mau jadi apa di music, yang gw tau ya gw mau punya penghasilan dari musik. Awalnya tuh gw main gitar, gw waktu itu punya band sendiri dan sempet bantuin band indie-pop Jakarta namanya Dear Nancy. Pada saat awalnya gw nge-band gw belum terlalu mengenal fungsi monitor itu apa. Setelah beberapa kali manggung gw mulai mengenal tuh yang namanya fungsi monitor, tapi gw sering mengalami masalah saat minta suara tertentu di monitor gw. Nah dari situ timbul rasa penasaran gw yang akhirnya membuat gw belajar fungsi mikser.

Terus dari rasa penasaran itu apakah mas mulai belajar sendiri atau ada pendidikan formal?

Gw otodidak kok gak masuk sekolah formal.

Kenapa sih mas mau jadi sound engineer?

Awalnya gw belajar karena emang pengen tau aja, apa sih sound system? Gimana sih caranya membentuk suara? Setelah dipelajari lebih dalam lagi ternyata ketertarikan gw lebih kesitu dibandingkan menjadi player.

Kenapa tuh bisa lebih tertarik jadi sound engineer  dibandingkan jadi player?

Nah serunya jadi sound engineer tuh ya gw bisa menentukan tone dari berbagai macam suara, gw juga bisa menentukannya seenak gw asal bener dan kedengeran semua ya. Ibarat kata ego gw bisa keluar tanpa harus banyak kompromi dengan orang lain, gak kaya nge-band. [Tertawa]

Band apa sih yang pertama kali mas pegang sebagai sound engineer?

Band yang pertama gw pegang itu Efek Rumah Kaca (ERK)

Boleh diceritain gimana awalnya bisa megang ERK?

Gw pertama kali ikut ERK tuh bukan sebagai sound engineer tapi sebagai teknisi gitar untuk Cholil. Waktu itu gw ikut mereka karena sebenernya gw pengen nyontek chord-chordnya Cholil. Dari situ gw mulai memperhatikan tone gitar Cholil dan mulai ngasih saran ke orang vendor yang lagi megang, kayak “mas ini kayaknya kurang ini deh mas.” Nah setelah itu gw mulai ngerasa gak enak kan karena gw ngerasa ngerepotin orang vendor melulu, akhirnya gw belajar mixer sendiri deh. Awalnya gw belajar mixer yang cuman 6 channel, EQ nya pun cuman 3, mixer nya tuh punya si Akbar (Drummer ERK). Cara gw belajar pertama kali tuh gw buka tutup tiap EQ untuk ngedenger karakter masing-masing.

Boleh ceritain gak gimana pertama kali megang ERK?

Perama kali megang tuh di Hard Rock Café, waktu itu ada yang nanya Yuri (Manager ERK) kalau ERK bawa soundman gak. Terus dengan enteng Yuri bilang “bawa, nih (sambal nunjuk gw)” buset mana gw belom pernah megang mixer kan. [Tertawa] Mana waktu itu mixer-nya gede banget lagi. Nah akhirnya gw megang tuh dengan bantuan orang vendor. Dari situ gw mulai bener-bener belajar mixer, nonton youtube-lah, nanya ama orang vendor soal  tone-tone instrumen, kaya suara tom yang “tung” atau suara kick yang “deg”. Semua gw pelajari dengan mengingat gimana bentuk suaranya. [Tertawa]

Terus dititik mana tuh Mas Arif ngerasa “Wah ini gw udh mulai bisa megang nih” ?

Gw inget kalo gw butuh satu tahun untuk bener-bener bisa megang, kira-kira tahun 2008 gw udh bisa. Dalam proses belajar gw, magisnya sih, gw ngerasa kaya di tuntun sama sang pencipta step by step­-nya.  Nah waktu itu ERK main di Bali, pada saat itu gw mulai dikenalkan sama yang namanya reverb. Waktu itu orang vendor yang nyaranin gw. Dia awalnya bilang “kasih reverb tuh mas”, terus gw tanya “reverb itu apa?”, dia jawab “efek mas, efek vocal”. Terus dia nunjukin gw caranya ngasih reverb di mixer. Semenjak itu gw bikin tiga orang itu penuh reverb, mulai dari vocal, snare sampe gitar. Semua gw lakuin dengan referensi Muse, karena emang pada saat itu gw lagi ngedengerin Muse dan menurut gw pas untuk ERK dibentuk kayak gitu. Waktu itu emang gw udh memperhatikan kalau si Muse itu banyak banget menggunakan efek, tapi pas di Bali itu lah gw baru tau kalau itu namanya reverb. Semenjak itulah gw mulai eksperimen dengan reverb dan Efek Rumah Kaca.

Pengalaman paling ‘bikin merinding’ pas megang ERK tuh pas kapan mas? Boleh diceritain?

Waktu itu ERK lagi main di Leuwi Nanggung, di rumahnya Iwan Fals. Pas main tuh Iwan Fals berdiri di samping gw persis, gw gugup banget tuh. [Tertawa] Pertama dia nanya soal sub-kick “itu apaan tuh?”, kata dia. Terus gw jawab “itu buat suara kicknya lebih deep aja bang, eh pak”, sangking groginya tuh gw. [Tertawa] Terus abis itu dia langsung bilang ke sound man-nya “besok beli ini yah.” Nah setelah itu ERK kan bawain lagunya Iwan Fals, gw lupa lagunya apa kalo gak salah sih “Ibu”. Seketika pas lagunya mulai bang Iwan tuh nunduk, sampai lagunya selesai baru dia ngangkat kepala.  Terus kata soundman-nya “mas lu berhasil mas”, gw tanya balik kan “berhasil apaan mas?”. Terus soundman-nya jawab “kalau Iwan Fals nunduk terus ngangkat kepalanya ditengah-tengah berarti dia gak terkesan tapi kalau dia nunduk terus ngangkat pas selesai.”

Wah terus gimana tuh rasanya?

Yaudah gw sih tetep aja gugup. [Tertawa] Terus dia juga nanya, “ini Echo-nya sengaja kamu pake terus atau di momen-momen tertentu?” Gw jawab aja “Di momen-momen tertentu sih bang.” Gak lama setelah obrolan itu istrinya dateng dan komentar kalau soundnya gaung banget kaya di goa. Langsung abis gitu bang Iwan bilang “Udah jangan komentar, gak ngerti kamu mah.” [Tertawa] Dari saat itu lah gw mulai di omongin sama bang Iwan di belakang panggung, dia bilang ke anak-anak ERK kalau sound engineer mereka itu player terakhir mereka.

Jadi sebagai player ke-empat waktu itu, apakah mas Arief juga menghapal aransemen-aransemen ERK?

Oh ya jelas, aransemen, karakter tiap instrument dan “kemarahan” dari tiap player. Masing-masing player kan punya emosinya masing-masing, nah disitu lah tugas gw untuk ngasih nyawa di tiap-tiap emosi player.

Setelah ERK mas Arief megang band apa aja sih? Terutama yang sekarang lagi di pegang yah.

Mulai 2015 kemarin, gw masuk REI Project untuk jadi sound engineer buat manajemen mereka. Band-band yang dibawah manajemen itu tuh ada Endah and Rhesa, Bonita and The Hushband, Aditya Sofyan, Bubugiri sama Blotymama.

Nah tiap band kan punya karakter masing-masing tuh, gimana pendekatan mas pada saat megang band-band tersebut?

Jadi setelah gw keluar dari ERK tahun 2012 gw sempet jadi freelance selama 2 tahun. Nah dalam 2 tahun itu gw  belajar untuk mengurangi ego gw. Selama beberapa saat pada waktu gw freelance, gw selalu mixing band yang gw pegang dengan model mixing-an ERK. Nah selama dua tahun gw belajar bahwa gw salah disitu. Gw harus mampu ngeluarin “nyawa” si band yang gw pegang tapi juga masih punya benang merah dari gw. Sehingga karakter dari bandnya keluar, karakter gw pun keluar.

Apakah ada proses komunikasi mas antara band sama mas soal hal-hal teknis?

Pastinya dong. Nah sebelum gw ikut manajemennya EaR, gw kan sempet freelance sama beberapa band, gw ketemu berbagai band dengan berbagai attitude. Dari situlah gw belajar banyak soal betapa pentingnya komunikasi dan cara kita memperlakukan player.

Berarti komunikasi dan attitude kita terhadap player itu penting ya?

Oh itu penting banget sih. Misalnya suka ada gitaris yang pengen suara gitarnya “kotor”, tone-nya berantakan, padahal dalam memainkan sebuah aransemen tentu dibutuhkan chord yang dimainkan dengan nada dan nada tersebut harus terdengar jelas. Dalam hal-hal kayak gitu seorang sound engineer butuh ngomong ke player tersebut bahwa gw bisa ngasih suara kotor buat lo tapi mungkin untuk penonton akan berbeda. Terus memang seiringnya waktu, player dan sound engineer pasti saling beradaptasi sehingga udah tau karakter satu sama lain. Sama kaya pada saat gw mulai tetap di EaR, banyak kompromi soal hal teknis yang muncul dari komunikasi antara gw sama mereka.

Ngomong-ngomong soal EaR, udah berapa lama jadi sound engineer EaR?

Gw mulai megang EaR semenjak awal tahun 2015. Gw sih lebih ke sound engineer untuk Rei Projectnya, jadi selain bertanggung jawab sama Endah and Rhesa gw juga bertanggung jawab sama keperluan teknis band-band lain. Technical Riders band-band tersebut pun gw yang ngurusin sejauh ini, tapi memang sejauh ini prioritas gw di EAR. Jadi kalau band-band Rei Project lagi main semua, biasanya gw cari sound engineer freelance terus biasanya gw brief deh sesuai band yang mereka pegang.

Boleh ceritain gak awal mulanya bisa ikut EaR?

Awal mula gw megang EaR itu di pensi sekolah di Jakarta tahun 2007. Sebelumnya memang sering ketemu karena ERK sering main bareng sama EaR. Rendi, manajer EaR, memang sering ngeliat gw mixing sampai akhirnya di satu kesempatan gw diajak untuk megang. Jadi memang kalau pas waktu itu ERK lagi gak ada jadwal, gw freelance di Endah and Rhesa dan akhirnya pas awal tahun 2015 gw diajak untuk ikut manajemen mereka.

Gimana mas rasanya kerja sama dengan EaR? Apa mereka termasuk player yang concern sama hal-hal teknis?

Mereka jelas sangat concern sama hal-hal teknis dan sejujurnya gw lebih suka bekerja sama player yang ngerti teknis. Soalnya dengan begitu akan lebih mudah buat mereka mengkomunikasikan apa yang mereka mau dan apa yang bisa diwujudkan.

Oh ya mas, gw sempet liat website-nya EaR, disitu ditulisin soal gear-gear yang mereka pake. Apa mas juga ikut memilah-milih gear-gear tersebut?

Kalo di EaR sih gw gak ikutan ngebangun gear-nya, yang gw ikut ngebangun tuh pas gw di ERK. Kalau di ERK yang kebanyakan mau alat macem-macem itu gw. Gw yang ngerekomen anak-anak waktu itu dengan barang- barang yang sekarang dipake, kaya sub-kick Yamaha atau POG. Nah di EaR sih untungnya mereka semua udah tau apa yang mereka butuhkan.

Diantara gear-gear tersebut gw liat kalau ada efek vocal. Nah gimana sih pendapat mas soal penggunaan efek vocal di panggung? Ngeribetin gak sih?

Kalau buat di EaR sih bisa dibilang keribetannya tuh 0%, karena penggunaan efek vocal di panggung tuh cuman sebatas buat backing vocal suara dua aja, gak ada reverb ataupun delay. Disitu tuh Endah mengerti kalau dia pake efek reverb atau delay pasti akan ngerusak tone yang udah gw bangun di depan.

Kita kan tahu kalau EaR tuh duaan, gimana sih mas ngakalin live mereka supaya kerasa penuh gitu?

Kalau rahasia soal itu sebenernya cuman ada di Endah sama Rhesanya, karena kalau lo perhatiin masing-masing dari mereka tuh maenin semacam beat drum. Misalnya Rhesa tuh seolah nyelipin beat-beat kick sama snare diantara permainan bassnya. Paling yang gw lakuin tinggal nambahin reverb biar kerasa lebih penuh.

Wah berarti tone bassnya harus detil banget ya mas?

Oh ya jelas, maka dari itu gw selalu sound check. Apapun bandnya, mau band baru atau band lama, semua kalau sama gw harus sound check. Kalau diibaratkan sound check tuh kayak manusia minum air putih, penting ga penting tapi butuh gitu. Mau jam berapapun, mau jam 1 pagi kek, gw kejar tuh sound check. Gw pernah nih ditawarin megang band tapi gak bisa sound check, gw tolak kan tuh, terus manajernya bilang “udah pada jago-jago kok mas.” Ya gw sih gak peduli, mau udah jago juga kalau sama gw tetep harus sound check. Nah di waktu sound check itu lah gw cari detil-detil yang gw perlu.

Nah boleh ceritain gak soal momen-momen apes mas pada saat megang EaR?

Untuk EaR kebanyakan sih aman, mungkin karena memang udah dikenal, tapi sebelumnya gw pernah dapet momen apes pada saat gw masih di ERK.

Boleh diceritain gak gimana momen apesnya?

Waktu itu ERK main di Palu, pas gw dateng pertama kali ke venue, ga ada tuh yang bisa nge-routing. Gw tanya lah orang vendor­-nya “Ini gimana ya mas?” terus orang vendor-nya malah balik nanya “Gimana ya mas?” [Tertawa] Yaudah gw akhirnya nge-routing lah sama anak-anak. Mana kabelnya warna-warni gitu, tau kan lo kalau kabel warna-warni berarti apa.

Bekas dangdutan gitu?

[Tertawa] Bener banget

Pertanyaan selanjutnya soal vendor sound system nih, menurut mas Arief vendor sound system yang baik itu yang kayak gimana sih?

Menurut gw sih vendor sound system yang baik itu yang mampu baca riders dan mampu  berkomunikasi dengan baik sama gw. Misalnya mereka gak bisa nyediain satu barang, terus mereka langsung tek-tok sama gw soal barang tersebut. Itu menurut gw udah vendor yang baik sih. Kalau soal alat bagus atau gak gw rasa agak pelik karena vendor tentu cuman akan mengeluarkan barang sesuai sama budget panitia, jadi ya emang ga bisa maksain juga.

Pertanyaan terakhir nih mas, menurut mas gimana sih prospek menjadikan sound engineer sebuah profesi/pekerjaan?

Wah gw pada saat dulu mau jadi sound engineer gw menganggap kalau gw lagi ngejalanin hobi gw. Jadi, gimana yah, kalo lo menjadikan sound engineer sebuah profesi disitu seolah ada pandangan bahwa lo lagi kerja. Dengan sendirinya lo akan berfikir bahwa gw harus berpenghasilan, ga muna juga kalau gw butuh penghasilan, tapi kalau presentasi cari penghasilannya lebih besar dibanding hobinya pasti lo gak akan enjoy ngejalaninnya. Gw beruntung banget punya hobi yang bisa gw jadikan penghasilan. Jadi sebenernya sih kalau lo mau cari penghasilan, mending lo kerja kantoran aja gitu. Kalau di bidang seni kaya gini lo hobi aja dulu, kalau karya lo bagus gak akan buta orang untuk ngehargainnya. (A.D Lacborra)

Tips & Trick: 5 Alasan Kenapa Kamu Harus “Sound Check”

Alasan Sound Check

Bayusvara.com – Artikel ini dibuat bukan dalam rangka mendikte atau menggurui tapi untuk sekedar memberi saran kepada kamu kamu yang anak band betapa pentingnya Sound Check bukan hanya buat kamu yang akan tampil tetapi juga panitia acara dan vendor penyedia sound system. Percuma toh kalau kamu sudah latian ber hari-hari tapi penampilan kamu tidak maksimal? Maka dari itu Bayszine mencoba memberi saran dalam artikel yang bertajuk 5 alasan kenapa kamu harus Sound Check.

  • Memastikan Kelayakan Alat Dari Vendor

Walaupun biasanya kamu sering meminta spesifikasi alat dari panitia ataupun langsung dari vendor namun kamu tetap harus memastikan kelayakan alat yang disediakan jauh sebelum tampil. Manfaatkan lah waktu yang disediakan untuk memeriksa tiap elemen dari sistem, mulai dari amplifier, drum set, microphone, sampai hal kecil seperti terminal listrik, jack dan kabel. Dengan mengetahui kelayakan dari alat yang akan dipakai, kamu dapat menanggulangi hambatan-hambatan teknis yang mungkin terjadi nantinya.

  • Mengatur Stage Layout Sesuai Kebutuhan Kamu

Mengapa stage layout itu penting? Karena setiap musisi itu unik dan posisi speaker monitor kadang tidak sesuai dengan keunikan dari musisi-musisi tersebut. Posisi menjadi penting sebab hal tersebut juga berpengaruh dengan cara berkomunikasi satu pemain dengan pemain lain dan komunikasi dalam bermain musik tentu saja hal yang penting. Maka datanglah lebih cepat pada saat sound check untuk mengatur posisi-posisi pemain di band kamu.

  • Mengatur Kebutuhan Monitor

Kamu tentu ingin bermain musik dengan mendengar permainan kamu sendiri dan permainan teman bandmu bukan? Itulah fungsi speaker monitor yang berada diatas panggung, namun hal tersebut tidak dapat terjadi dengan metode plug and play apalagi jika terdapat dua sistem mixer. Untuk itulah dibutuhkan sound check agar sound engineer vendor maupun sound engineer yang kamu bawa dapat memenuhi kebutuhan monitormu. Kamu tidak mau kan jika kamu manggung tanpa cekson lalu kamu tidak dapat mendengar permainanmu sendiri, pasti kacau.

  • Membantu Sound Engineer Dalam Mixing Band Kamu

Percayalah bahwa semua sound engineer sangat menghargai waktu sound check. Bagi sound engineer yang dibawa band, sound check sangat penting sebab disitulah mereka dapat menyesuaikan diri dengan alat-alat yang dibawa vendor. Lalu bagi sound engineer vendor, hal tersebut penting untuk menyesuaikan diri dengan band-band yang akan tampil. Sound Check juga memberikan waktu untuk kamu yang anak band, mendengar sendiri suara yang dikeluarkan oleh speaker untuk penonton.

  • Mengenal “Mas-Mas Son”

Perlu digaris bawahi bahwa semua sumber daya manusia dari vendor yang terlibat dalam pertunjukan kamu merupakan orang-orang yang nantinya akan berusaha memenuhi segala kebutuhan audio kamu, sehingga tidak ada salahnya bukan mengenal mereka secara personal? Datanglah lebih awal pada saat Sound Check  untuk sekedar berkenalan dengan mereka, nawarin rokok atau kopi dan mengingat nama mereka (terkadang anak band suka lupa sama nama para penyedia sound, sehingga mereka sering dipanggil “Mas-mas son”). Kita jamin deh kalau kamu memperlakukan orang vendor seperti kamu meperlakukan temen kerja, dia juga akan membantu kamu sepenuh hati.

Apakah kamu sudah dapat garis besar mengapa sound check itu penting? Perlu diingat bahwa saran-saran diatas bisa saja tidak relevan untuk musisi-musisi yang sudah mempunyai tim produksi sendiri untuk melakukan sound check. Namun untuk band baru yang masih harus melakukan sound check sendiri, siapkanlah alarm di handphone-mu untuk bangun dan datang lebih pagi ke venue.(A.D Lacborra)

Artist Review: Danilla Riyadi

Danilla

Diantara banyak nama penyanyi muda wanita yang bermunculan akhir-akhir ini terdapat satu nama yang  berkesan untuk kami. Nama tersebut adalah Danilla Riyadi. Memainkan musik jazz dengan berbagai macam campuran dari bossas modern hingga triphop, Danilla mengukuhkan namanya di kancah musik independen Indonesia.

Bayusvara.com – Peleburan musik-musik tersebut dapat kita dengar di album perdananya yang bertajuk Telisik. Dengan 13 lagu yang terdapat di album tersebut, Danilla mampu menculik pendengarnya ke dimensi yang asing namun menghangatkan. Banyak lagu-lagu dari album tersebut yang dapat dengan mudah kami kenali karena banyak dari lagu-lagu tersebut memiliki ciri khas yang unik yang membedakannya dari lagu lainnya. Seperti pada lagu Junko Furata, kita dapat mendengar pengaruh kental dari musik-musik trip hop semacam Jay Jay Johanson atau beberapa lagu dari Portishead.

Diantara semakin beragamnya musik Indonesia, Danilla merupakan salah satu penyanyi wanita muda yang patut untuk diperhatikan perkembangannya. Selain live performance yang rapi dan hangat, Danilla perlu diperhatikan sebab perkembangan musiknya akan mengarah ke ranah yang lebih mengejutkan. (A.D Lacborra)

Album Review : Efek Rumah Kaca – “Sinestesia”

Sinestesia

Setelah vakum lebih dari satu tahun, Efek Rumah Kaca (ERK) menggebrak blantika musik Indonesia dengan album yang dapat dibilang eksperimental dan menantang. Eksplorasi musik dalam album tersebut sontak menanggalkan label trio pop minimalis mereka yang melekat setelah bertahun-tahun. Bagi para pecinta album Kamar Gelap atau album self-titled mereka, mungkin harus sedikit lebih bersabar dalam mendengarkan lagu-lagu di dalam album ini.

Bayusvara.com – Album kali ini diberi tajuk Sinestesia yang menurut KBBI berarti sebuah ungkapan bagi sebuah indra yang digunakan untuk indra lain. Dalam album tersebut terdapat bagian-bagian yang diberi judul dalam warna, dari Merah, Jingga hingga Biru, semua merefleksikan isi dari bagian itu sendiri. Seperti dalam lagu “Tiada” pada bagian Putih, kita dapat mendengar sebuah pengalaman tentang seorang yang telah meninggal dari prespektif yang mengalaminya. Nada lirih yang dinyanyikan Cholil serta lirik yang dinarasikan Adrian dalam lagu tersebut, mampu menyihir bulu kuduk pendengar untuk seketika berdiri sambil terus membayangkan warna putih pada kain kafan atau warna putih pada cahaya diujung lorong. Seolah sengaja memberi kesan warna pada lagu-lagu mereka, ERK berhasil menciptakan pesta warna yang meledak dalam gerak lambat di otak pendengar album mereka.

Membutuhkan kesabaran yang tinggi saat mendengarkannya, album ERK kali ini dapat dibilang sebuah ujian untuk pendengar setia mereka. Bagi pendengar yang cinta mati dengan konsep pop minimalis ERK, tentu mendengarkan album Sinestesia merupakan sebuah ujian yang berat. Namun bagi para pendengar ERK  yang merasa cukup atas pop minimalis yang pernah mereka tawarkan, album ini merupakan sebuah kejutan yang menyenangkan. (A.D Lacborra)

Backstage Heroes: Rossi Rahardian (Efek Rumah Kaca)

Efek Rumah Kaca

Konser Sinestesia yang digalang oleh Efek Rumah Kaca (ERK) beberapa waktu lalu dapat dibilang sebuah konser yang melejitkan standar konser band independen di Indonesia. Diselenggarakan di Teater Besar TIM dengan artistik panggung berupa kotak besar lengkap dengan video mapping dan eksplorasi musik yang gila-gilaan, ERK dengan segera menanggalkan label trio pop minimalis mereka.

Bayusvara.com – Tentunya dibalik karya-karya besar terdapat nama-nama yang turut membantu dengan penuh ketulusan dan kecintaan terhadap karya tersebut. Salah satu dari nama itu adalah Rossi Rahardian Sasongko. Seorang sound engineer yang sudah ikut ERK semenjak tahun 2009. Kecintaan Rossi terhadap profesinya dan band yang ia pegang merupakan sebuah kompilasi cerita seru yang ia ceritakan dengan penuh kesederhanaan. Diantara kesibukannya, Rossi menyempatkan diri untuk bercerita kepada Bayszine tentang bagaimana ia bisa menjadi seorang sound engineer dan serunya proses Konser Sinestesia.

Apa kabar mas Rosi?

Alhamdullilah sehat

Bisa ceritain gak awal mula ikut ERK gimana?

Gua dipertemukan sama ERK itu tahun 2009 ketika mereka tour album kedua (Kamar Gelap). Road Manager ERK, nawarin gua buat bikin launching album kedua mereka di Malang. Kebetulan gua emang udah denger musik ERK sebelumnya dan emang suka banget, karena itu gua dengan senang hati mau bantu. Setelah acaranya sukses dan banyak banget yang nonton, gua ngobrol sama ERK soal banyak hal dan gua menemukan banyak kecocokan. Mulai dari konsep musiknya, liriknya sampe konsep manajemennya yang mengedepankan kekeluargaan. Wah ini band gua banget nih. Dari situ akhirnya gua diajak untuk ikut sama ERK.

Pas awal-awal ikut ERK langsung jadi sound engineer ?

Pas awal-awal gua bantuin tim manajemen terutama Bos Yuri (Road Manager ERK) di banyak bagian kaya hal-hal yang berhubungan sama media. Selain itu gua juga bantuin di tim produksi jadi teknisi nya Akbar (Drummer ERK).

Terus gimana ceritanya bisa jadi sound engineer nya ERK?

Sebenernya gua jadi sound engineernya ERK itu gak sengaja awalnya. Jadi ERK itu udah punya sound engineer tetap semenjak tahun 2008 sampai akhirnya pas tahun 2012 mengundurkan diri. Nah tapi si sound engineer ini mengundurkan diri dua minggu sebelum gigs, jadi itungannya mendadak banget. Nah ERK kan udah ada gigs tuh, tapi belum kepikiran siapa yang akan ngegantiin. Sampai akhirnya gua ditunjuk sama Bos Yuri atas mandat anak-anak untuk jadi sound engineer mereka.

Wah berarti ditunjuk tiba-tiba gitu?

Iya tiba-tiba banget. Gua mikir, wah buset gua ga ada basic sound system sama sekali. Ini gila banget sih, masalahnya kalau ERK ini band baru yang berarti gua juga bisa ikut belajar sih gpp, tapi ini kan ERK udah punya massa, udah main kemana-mana, udah punya penggemar di berbagai kota. Gua ampe bertanya sama diri gua sendiri sebenernya ini tantangan atau cobaan sih. Disitu gua mikir, kalau gua terima tawaran ini dan berhasil, gua bisa naik level nih, tapi ini juga resikonya gak kecil.

Nah selama dua minggu belajar apa tuh?

Pertama gua memutuskan untuk mengiyakan karena keluarga ERK semua mendukung banget, tapi gua dikasih deadline selama dua minggu untuk belajar. Gua masih inget waktu itu Bos Yuri bilang kalau dia mau provide gua apa aja supaya bisa belajar cepet. Pertama, gua minjem majalah-majalah Audio Pro-nya Bos Yuri tentang sound engineering terus gua minta dipasangin internet. Setelah itu, gua baca berbagai macem artikel di internet, youtube­-an juga. Selain itu gua juga belajar langsung ke orang-orang yang bisa dibilang udah pakar, kayak Rully dari White Shoes and the Couples Company.

Gimana gigs pertama megang ERK?

Nah kebetulan sehari sebelum gigs pertama ERK di Solo, ERK main di rumah Zeke Khaseli. Jadi ada semacam acara internal ngundang band temen-temen yang bantuin bikin album solo pertamanya Zeke. Gua masih inget tuh nama acaranya Panen Salak. Pertama kali megang tuh emang deg-degan banget mulai dari pas sound check sampe main.

Lancar tuh pas acara yang di rumah Zeke?

Ancur banget dah! [Tertawa] Ancur dari mulai check sound sampe main. [Tertawa] Gua inget banget itu Cholil sampe marah-marah. Mungkin yang ada dipikiran Cholil tuh, wah salah nih gua [Tertawa]. Ya tapi gimana udah H-1 , ga mungkin juga cari sound engineer baru buat ke Solo, sementara kita subuh aja udah berangkat. Tapi gua juga bersyukur sebenernya, karena dari situ gua tahu harus belajar dari mana. Kalau gua sih ngebalik proses belajar, kan biasanya orang belajar sSound mulai dari kenal frekuensi sampe fungsi-fungsi mixer. Nah kalau waktu itu gua cuma pegang satu hal nih, gimana caranya gak keluar feedbackitu doang udah pokoknya. Itu yang jadi pedoman gua setelah pertama kali megang, jangan ada feedback.

Setelah itu, pas di Solo gimana?

Di Solo sih aman, ga ada trouble.

Udah lama juga yah berarti megang ERK, asik gak sih jadi Sound engineer?

Ya karena gua emang suka sama ERK dan gua juga nyaman banget kerja sama orang-orang yang ada di dalamnya, jadinya sih asik.

Kalau pengalaman paling seru megang ERK tuh kapan?

Sampai detik ini sih ya Konser Sinestesia dua hari yang lalu.

Nah, boleh ceritain gak soal konser Sinestesia kemarin? Berhasilkah sesuai sama ekspektasi atau gimana?

Sebenarnya berhasil atau gak nya sebuah konser itu bergantung sama semua elemen. Mulai dari tim produksi, panitia, volunteer, tim artistik sampai persiapan dari bandnya sendiri. Gua beruntung banget ada di ERK karena banyak banget orang-orang yang cinta sama band ini, karena gua melihat semua panitia sampai tim produksi itu temen sendiri, semuanya orang-orang yang cinta sama ERK. Kita juga mempersiapkannya tuh gak ada sebulan loh.

Gak ada sebulan tuh?

Iya. Terus kenapa konser itu pengalaman paling berkesan buat gua, karena gini. Ketika lo ngelakuin sesuatu yang lo suka, ada ketulusan dalam ngerjain hal tersebut dan pas konser kemarin gua ngerasa dikelilingi sama orang-orang yang juga bekerja dengan ketulusan. Gua merasa semua elemen ngerasain hal tersebut mulai dari penjaga pintu, tim produksi sampai semua volunteer.

Selama konser kemarin ada trouble gak sih, terutama bagian Sound System?

Nah sebenernya di konser kemarin itu, ERK sudah sepakat buat mengutamakan segi artistiknya karena pada saat itu ERK menggandeng orang yang berkompeten buat tim artistiknya, mas Irwan Ahmet. Nah tim lain, kaya tim audio, video sama foto harus menyesuaikan. Akhirnya banyak pengorbanan yang dilakuin sama tim-tim lain. Kalau tim audio sih pengorbanannya tuh kita harus main di dalam box besar yang depannya terbuka, karena hal tersebut akhirnya monitor tiap player isinya cuman permainan dia aja, tapi sebelumnya gua udah brief ke anak-anak kok.

Nah Mas Rossi sebelum konser tentu udah denger albumnya dong, ada sentuhan berbeda gak antara live sama rekamannya?

Gua beruntung di ERK karena gua ga cuman jadi Sound engineer aja, tapi gua juga bertugas  memperjelas aksen-aksen di beberapa lagu. Kita tau eksplorasi di album Sinestesia udah gila banget dan dari satu sampai enam lagu itu ada part-part yang dinamis. Misalnya di bagian ini gitar nya naik terus di bagian ini piano naik lalu di bagian ini ada efek vocal, dan seterusnya.

Kan kita tahu nih kalau Cholil sempat pergi ke Amerika dan akan pergi ke Amerika lagi terus ERK kan vakum, nah selain megang Pandai Besi, Mas Rossi megang band apa lagi pada masa-masa itu?

Nah memang selama ditinggal Mas Cholil dan Mba Irma ke New York gua merasa butuh untuk megang band sebab gua kan bukan sound engineer yang sekolah formal sehingga gua butuh terus belajar di lapangan, ya learning by doing lah. Nah kebetulan setelah Cholil berangkat gua ditawarin untuk megang Payung Teduh ama Bos Etep. Awalnya memang udah ada sound engineer  lain, si Bayu, tapi karena banyak kesibukan lain waktu itu akhirnya dia jadi megang monitor. Ya gua bilang ke Bos Etep apa adanya kalau gua juga masih belajar. Selain Payung Teduh, gw juga sempet megang beberapa band  kaya Matajiwa, Kelompok Penerbang Roket sama Silampukau.

Ini pertanyaan terakhir nih, kita tahu kan banyak nih sound engineer muda, ada gak sih saran buat yang mau belajar?

Kalau gua sih prinsipnya lo harus suka dulu sama yang lo kerjain. Kalau lo jadi sound engineer karena gak ada profesi lain, untuk cari duit atau cuma buat gaya-gayaan doang, menurut gua akan sulit. Lo harus suka dulu sama yang lo pegang, maksud gua disini band ya. Kalau lo jadi sound engineer band, berarti lo udah jadi bagian dari band tersebut, bagian dari personil. Lo harus paham banget sama lagunya, karakternya. Kerja tim juga penting, itu yang bikin lo semakin menguasai apa yang lo pegang, karena kalau lo ga ada crew, lo ga bakal bisa apa-apa.  Jadi ya pesen gua kuncinya untuk jadi sound engineer tuh komunikasi. Obrolin yang paling susah sekalipun, karena dari situ kita akan dapet solusi. (A.D Lacborra)

Membuka 2016, Teater Pandora Produksi Pementasan Kolosal Bertajuk “Pernikahan Darah”

Ada yang berbeda pada saat iring-iringan pesta pernikahan di awal dengan di akhir pementasan. Di awal, atmosfer kegembiraan sangat terasa dengan balutan musik yang ceria. Namun keceriaan hilang pada iring-iringan terakhir, kali ini barisan turut disesaki oleh dua tubuh lelaki yang telah terbujur kaku.

Bayusvara.com – Berlokasi di Graha Bhakti Budaya, TIM – Jakarta Pusat, “Pernikahan Darah” sukses dipentaskan selama tiga hari, dari 15 hingga 17 Januari lalu oleh Teater Pandora. Pementasan ini merupakan naskah kedua yang dilakonkan setelah “Perkawinan” yang merupakan pementasan perdananya pada 4 Mei tahun lalu di Auditorium IX Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya – Universitas Indonesia.

Membuka tahun 2016, Teater Pandora mengangkat tragedi mengenai cinta segita, pengkhianatan dan dendam keluarga melalui lakon yang diadaptasi dari naskah “Bodas de Sangre” karya Federico Garcia Lorca. Naskah asli yang lekat dengan tradisi Spanyol ini disandingkan dengan tradisi Batak dalam Pernikahan Darah. Menurut Yoga Mohamad atau yang kerap disapa ‘Mbe’ selaku sutradara, salah satu yang menjadi alasan utamanya ialah adanya kemiripan antara kedua tradisi tersebut dalam merayakan sebuah hari besar yakni dengan nyanyian dan tarian.

e22
Tarian Spanyol yang disisipkan dalam tarian Tortor

Tidak tanggung-tanggung, Teater Pandora menggaet nama sekaliber Martahan Sitohang sebagai music director dalam pementasan ini. Lulusan Etnomusikologi USU ini merupakan penggiat musik tradisional Batak yang mendedikasikan diri dalam usaha pelestariannya. Selama lebih kurang dua bulan beliau dengan tim nya meracik musik bermodal alat musik tradisional Batak seperti taganing, hasapi dan sarune yang dipadukan dengan gitar akustik untuk mendapatkan nuansa musik ala Spanyol.

Hal yang sama juga berlaku pada tari-tarian yang ditampilkan dalam lakon berdurasi lebih kurang 2 jam ini. Tidak kurang dari dua babak yang menampilkan kebolehan para aktor dan aktris Teater Pandora dalam hal menari, yakni pada pesta pernikahan dan peperangan antar kedua keluarga. Ada nama Jamilah Siregar dibalik apiknya perpaduan tarian Tortor yang dimodifikasi dengan menyelipkan tempo stakato guna memunculkan rasa Spanyol pada beberapa bagian tarian. Perempuan yang kerap disapa ‘Mila’ ini merupakan alumni Fisip UI yang masih aktif sebagai koreografer Komunitas Tari Fisip “Radha Sarisha.”

e32
Detik-detik ketika Helena menyadari adanya gangguan dari Leonardo lewat sebilah belati

Sederet nama-nama di atas kiranya cukup menunjukkan keseriusan Teater Pandora dalam menyuguhkan sebuah penampilan yang kolosal dengan melibatkan tidak kurang dari 30 penari di atas panggung. Hal ini juga diamini oleh Dinda, salah satu mahasiswi Fakultas Psikologi UI, “Seru banget liat perpaduan Batak sama Spanyol nya yang pas gitu, gak berlebihan. Dari musik, tari, sama kostumnya juga, boots-boots nya gitu,” ujarnya yang ditemui seusai pementasan hari kedua.

Kelompok Teater yang mulai aktif sejak September 2014 ini secara konsisten menunjukkan kiprahnya sebagai sebuah kelompok teater profesional. Jalan dua tahun, teater yang sebagian besar anggotanya telah menimba ilmu di berbagai kelompok teater di Universitas Indonesia ini, telah menampilkan dua pementasan. Dengan kata lain, rata-rata satu produksi dalam satu tahun. Apakah akan ada produksi selanjutnya dari Teater Pandora di tahun ini atau kita mesti menunggu 1 tahun lagi? Tak ada salahnya untuk cek langsung ke website resminya di www.teaterpandora.com (I. Rahman)