Menuju Korean Culture Day 2016, Hwarang FIB UI Sukses Gelar Korean Mini Fair

Hwarang

Bertempat di Auditorium Gedung IX FIB UI, Himpunan Mahasiswa Koreanologi FIB UI yang tergabung dalam ‘Hwarang’ kembali menghelat Korean Mini Fair sebagai pre-event gelaran tahunan Korean Culture Day 2016.

Bayusvara.com – Korean Culture Day 2016 (KCD) diprediksi akan menjadi KCD terbesar yang pernah ada. Tahun ini Hwarang menggelar rangkaian pre-event sebanyak dua kali, berbeda dengan biasanya yang hanya mengadakan satu kali pre-event. Bertajuk ‘Road to Korean Culture Day 2016,” rangkaian acara KCD 2016 pertama diadakan pada 5 – 7 Februari lalu di One Belpark Mall. Korean Mini Fair (KMF) yang diadakan pada Jumat 18 Maret kemarin merupakan rangkaian acara yang kedua.

0088
Suasana kemeriahan di atas panggung Korean Mini Fair (photo: @mzbbwwrks_)

KMF dibuka dengan tarian Kalchum (Tari Pedang) dan Talchum (Tari Topeng) yang merupakan tarian tradisional Korea oleh Tim Seni Hwarang. Lomba Karaoke antar Himpunan Mahasiswa Jurusan FIB UI juga tetap ada dalam serangkaian acara KMF. Lomba ini dimenangkan oleh Program Studi Jawa yang diwakilkan oleh Bramantya Dwipramadya di tempat pertama, dan Program Studi Prancis dengan perwakilannya Arissa Shaquila di tempat kedua.

 

Read more

Membuka 2016, Teater Pandora Produksi Pementasan Kolosal Bertajuk “Pernikahan Darah”

Ada yang berbeda pada saat iring-iringan pesta pernikahan di awal dengan di akhir pementasan. Di awal, atmosfer kegembiraan sangat terasa dengan balutan musik yang ceria. Namun keceriaan hilang pada iring-iringan terakhir, kali ini barisan turut disesaki oleh dua tubuh lelaki yang telah terbujur kaku.

Bayusvara.com – Berlokasi di Graha Bhakti Budaya, TIM – Jakarta Pusat, “Pernikahan Darah” sukses dipentaskan selama tiga hari, dari 15 hingga 17 Januari lalu oleh Teater Pandora. Pementasan ini merupakan naskah kedua yang dilakonkan setelah “Perkawinan” yang merupakan pementasan perdananya pada 4 Mei tahun lalu di Auditorium IX Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya – Universitas Indonesia.

Membuka tahun 2016, Teater Pandora mengangkat tragedi mengenai cinta segita, pengkhianatan dan dendam keluarga melalui lakon yang diadaptasi dari naskah “Bodas de Sangre” karya Federico Garcia Lorca. Naskah asli yang lekat dengan tradisi Spanyol ini disandingkan dengan tradisi Batak dalam Pernikahan Darah. Menurut Yoga Mohamad atau yang kerap disapa ‘Mbe’ selaku sutradara, salah satu yang menjadi alasan utamanya ialah adanya kemiripan antara kedua tradisi tersebut dalam merayakan sebuah hari besar yakni dengan nyanyian dan tarian.

e22
Tarian Spanyol yang disisipkan dalam tarian Tortor

Tidak tanggung-tanggung, Teater Pandora menggaet nama sekaliber Martahan Sitohang sebagai music director dalam pementasan ini. Lulusan Etnomusikologi USU ini merupakan penggiat musik tradisional Batak yang mendedikasikan diri dalam usaha pelestariannya. Selama lebih kurang dua bulan beliau dengan tim nya meracik musik bermodal alat musik tradisional Batak seperti taganing, hasapi dan sarune yang dipadukan dengan gitar akustik untuk mendapatkan nuansa musik ala Spanyol.

 

Read more

Contact Us